Rezeki dalam pandangan keimanan



Terkadang terjadi kebimbangan dalam hati lalu muncul pertanyaan, "Ya Allah, saya sudah laksanakan perintah-Mu, saya sudah rajin shalat Tahajud, shalat Hajat, shalat Dhu-ha, berdoa dan berusaha, juga berbuat baik, tetapi mengapa rezekiku tetap saja sedikit, penghasilanku tidak bertambah, dan hidupku tak jauh dari kekurangan dan kemiskinan? Apa yang salah, apanya yang keliru?

Ketahuilah, bahwa sebenamya tidak ada yang salah dengan janji Allah. Karena Allah pasti menepati janji-Nya, dan Dia adalah Zat yang tidak pemah ingkar janji. Jadi, yang salah adalah diri kita sendiri.


  • Bisa jadi cara kita dalam beramal atau bekerja yang masih salah atau kurang sempuma, sehingga belum bisa mern-buahkan hasil yang nyata.

  • Bisa jadi kita yang belum paham tentang maksud dan pengertian rezeki.

  • Bisa jadi kita yang kurang jeli dan peka terhadap rezeki yang telah diberikan Allah kepada kita.


Atau bisa jadi Allah telah memberi rezeki kepada kita dalam bentuk yang lain.
Untuk itu penting sekali kita memahami apa itu rezeki, apa saja jenis-jenis rezeki. Agar tidak muncul keraguan dan syak wasangka. Tidak terjadi kesalahanpahaman atau menyalahkan. Dan supaya hati kita bisa tetap tenang dan yakin dengan janji Allah swt.

Dan tentunya yang dimaksud rezeki di sini adalah rezeki dalam pandangan keimanan. Bukan rezeki menurut ukuran kaum materials, sekularis, atau hedonis, yang hanya berpijak pada kesenangan duniawi semata. Rezeki dalam pandangan keimanan adalah mencakup setiap kebaikan berupa nikmat dan karunia Allah yang diberikan kepada hamba-Nya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, yang saat ini atau yang nanti di akhirat.

0 Comments