Doa ketika memakai pakaian

Orang yang hendak memakai pakaiannya disunatkan mengucapkan Bismillaah, begitu pula dalam semua pekerjaan.

Doa ketika memakai pakaian


Di dalam kitab Ibnus Sinni disebutkan sebuah hadis melalui Abu Sa'id Al-Khudri yang nama aslinya ialah Sa’d ibnu Malik ibnu Sinan:

Doa ketika memakai pakaian


Nabi SAW apabila memakai pakaian — baik baju gamis, kain selendang, ataupun kain sorban, - terlebih dahulu menyebut nama Allah , lalu mengucapkan doa, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Mu kebaikan baju ini dan kebaikan apa yang dibuatkan untuknya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang dibuat untuknya. ”

Di dalam kitab yang sama kami meriwayatkan pula melalui Mu’adz ibnu Anas , bahwa Rasulullah pernah bersabda:

Doa ketika memakai pakaian



Barang siapa yang memakai pakaian baru, lalu mengucapkan, “Segala puji bag: Allah Yang telah memberikan pakaian ini kepadaku dan merezekikannya kepadaku, tanpa upaya dan tanpa kekuatan dariku niscaya Allah SWT mengampuni semua dosanya yang terdahulu


Biografi Imam An- Nawawi



Imam an-Nawawi adalah seorang ulama besar di bidang ilmu fikih dan hadis. Beliau memiliki nama lengkap Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain an-Nawawi ad-Dimasyqy, Abu Zakaria. Lahir di desa Nawa, dekat Damaskus, pada bulan Muharram tahun 631 H. Sejak kecil beliau dididik dengan baik oleh ayahnya, sehingga sebelum usianya baligh, beliau sudah mampu menghafalkan al-Qur'an.

Di usianya yang kedelapan belas tahun, yaitu pada 649 H, an-Nawawi meninggalkan tanah kelahirannya menuju Damaskus. Di sana beliau ting-gal di madrasah ar-Rawahiyyah dan menghabiskan banyak waktunya untuk belajar hal-hal barn dari ulama-ulama setempat. Kepandaian an-Nawawi mengungguli teman-temannya. Bahkan hanya dalam waktu empat setengah bulan saja, beliau mampu menghafal kitab at-Tanbih.

Imam an-Nawawi sangat gemar menuntut ilmu. Di antara guru-gurunya yang amat terkenal adalah Abdul Aziz bin Muhammad al-Ashari, Zainuddin bin Abdud Daim, Imaduddin bin Abdul Karim al-Harastani, Zainuddin Abul Baqa, Khalid bin Yusuf al-Maqdisi an-Nabalusi dan Jamal-uddin Ibn ash-Shairafi, Taqiyuddin bin Abul Yusri, Syamsuddin bin Abu Umar. Di antara guru-gurunya yang mengajarkan ilmu fikih hadis (pema-haman hadis) adalah: asy-Syaikh al-Muhaqqiq Abu Ishaq Ibrahim bin Isa al-Muradi al-Andalusi, syaikh al-Kamal Ishaq bin Ahmad bin Usman al-Maghribi al-Maqdisi, Syamsuddin Abdurrahman bin Nuh, dan Izzuddin al-Arbili, serta beberapa guru lainnya.

Kehidupan Imam an-Nawawi dikenal zuhud, sederhana, dan penuh dengan ketakwaan. Beliau juga dikenal sangat berwibawa. Waktunya banyak dihabiskan untuk ibadah, belajar, dan menulis. Karya-karyanya yang terkenal berjumlah sekitar empat puluh kitab, di antaranya: Kitab Hadis: Arba'in, Riyadhush Shalihin, al-Minhaj (Syarah Shahih Muslim), at-Taqrib wat Taysirfi Ma'rifat Sunan al-Basyirin Nadzir. Kitab Fikih: Minhajuth Tha-libin, Raudhatuth Thalibin, al-Majmu'. Kitab Bahasa: Tahdzibul Asma' wal Lughat. Kitab Akhlak: at-Tibyan fi Adab Hamalatil (Qur'an, Bustanul Arifin, dan al-Adzkar.

Pengetahuan yang luas dan kezuhudan hidupnya membuat Imam an-Nawawi dikenal luas. Bahkan al-hafizh Ibnu Katsir rahimabullah me-nyebutnya dengan syaikhul madzhab atau ahli fikih mazhab Imam Syafi'i. Begitu pula dengan al-hafizh adz-Dzahabi rahimabullah menyebut Imam an-Nawawi sebagai ahli fatwa umat, syaikhul Islam, seorang hafizh (peng-hafal hadis) yang cemerlang, salah seorang imam besar, dan pemimpin para wali. Juga Rasyid bin Mu'aliim rahimabullah mengatakan bahwa Imam an-Nawawi sangat jarang masuk kamar kecil, sangat sedikit makan dan minum, sangat takut pada penyakit yang bisa menghalangi kesibukannya, sangat menghindari buah-buahan dan mentimun karena takut membasahi jasadnya dan membawa tidur, dan beliau sehari semalam makan sekali dan minum seteguk air di waktu sahur.

Hingga pada 24 Rajab 676 H Imam an-Nawawi meninggal dunia. Beliau meninggalkan banyak warisan ilmu yang hingga saat ini sangat ber-manfaat di dunia Islam. Semoga Allah swt. menempatkan beliau di tempat yang tinggi, berkumpul bersama arwah orang-orang yang saleh. Amin.

Rezeki dalam pandangan keimanan



Terkadang terjadi kebimbangan dalam hati lalu muncul pertanyaan, "Ya Allah, saya sudah laksanakan perintah-Mu, saya sudah rajin shalat Tahajud, shalat Hajat, shalat Dhu-ha, berdoa dan berusaha, juga berbuat baik, tetapi mengapa rezekiku tetap saja sedikit, penghasilanku tidak bertambah, dan hidupku tak jauh dari kekurangan dan kemiskinan? Apa yang salah, apanya yang keliru?

Ketahuilah, bahwa sebenamya tidak ada yang salah dengan janji Allah. Karena Allah pasti menepati janji-Nya, dan Dia adalah Zat yang tidak pemah ingkar janji. Jadi, yang salah adalah diri kita sendiri.


  • Bisa jadi cara kita dalam beramal atau bekerja yang masih salah atau kurang sempuma, sehingga belum bisa mern-buahkan hasil yang nyata.

  • Bisa jadi kita yang belum paham tentang maksud dan pengertian rezeki.

  • Bisa jadi kita yang kurang jeli dan peka terhadap rezeki yang telah diberikan Allah kepada kita.


Atau bisa jadi Allah telah memberi rezeki kepada kita dalam bentuk yang lain.
Untuk itu penting sekali kita memahami apa itu rezeki, apa saja jenis-jenis rezeki. Agar tidak muncul keraguan dan syak wasangka. Tidak terjadi kesalahanpahaman atau menyalahkan. Dan supaya hati kita bisa tetap tenang dan yakin dengan janji Allah swt.

Dan tentunya yang dimaksud rezeki di sini adalah rezeki dalam pandangan keimanan. Bukan rezeki menurut ukuran kaum materials, sekularis, atau hedonis, yang hanya berpijak pada kesenangan duniawi semata. Rezeki dalam pandangan keimanan adalah mencakup setiap kebaikan berupa nikmat dan karunia Allah yang diberikan kepada hamba-Nya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, yang saat ini atau yang nanti di akhirat.

Adab kepada diri sendiri.

Kurikulum adat kepada diri sendiri


1. Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.

Dalam Hadist di sebutkan Ali ibn Husen ibn Ali ibn Abi Thalib. bahwa Rallullah Shallallahu 'alaihi wasallam (Saw) besabda “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagi dirinya”

2. Menempatkan malu pada tempatnya.

Dalam Hadist disebutkan Dari Salamah az-Zuraqiy mengangkatnya secara marfu' ke Nabi, ia berkata , Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam (Saw) bersabda:

“Setiap agama itu punya akhlak dan akhlak agama Islam adalah rasamalu”

3. Menahan Marah

Dalam hadits disebutkan dari Humaid ibn Abdurraman ibn Auf.  Seseorang Iaki-laki datang menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam (Saw) dan berkata Wahai Rasulullah ajarkanlah kepadaku kalimat yang aku hidup dengannya. Jangan perbanyak (perberat) buatku dan membuatku lupa dengan ajaran tersebut. Nabi lalu bersabda: “Janganlah kamu marah” 


Next

SHALAWAT MAHKOTA


صَلاَوَةُالتَّاجٌ

لسيد نا الامام الشيج أبى بكر بن سالم العلوى لثفاءالآسقام

SHALAWAT MAHKOTA



Do’a Tolak Bala’, Serta Penyembuh Segala Penyakit Jasmani / Rohani
Dari Waliyullah : Assayyid Al-Imam Assyeikh Abu Bakar Bin Salim Al-Alawi (Almarhum Almaghfur)

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ صَا حِبِ التَّاجِ
Allahumma shalli wa sallim ‘alaa sayyidinaa muhammad shaahibittaaj

وَاْلمِعْرَاجِ وَاْلبُرَاقِ وَاْلعَلَمِ دَافِعِ اْلبَلآءِ وَالْوَبآءِ
Wal mi’raaji wal buraaqi wal ‘alami daafi’il balaai wal wabaa

وَاْلمَرَضِ وَالْأَلَمِ جِسْمُهُ طَاهِرَُ مُطَهَّرَُ مُعَطَّرَُ مُنَوَّرَُ
Wal maradhi wal alami jismuhu thaahirun muthaharun mu’athatharun munawwarun

مَنِ اسْمُهُ مَكْتُوْبَُ مَرْفُوْعَُ مَوْضُوْعَُ عَلَى الَّلوْحِ وَاْلقَلَمِ
Manismuhu maktubun mar fuu’un mau dhuu’un ‘alaa llawhi wal qalam

شَمْسِ الضُّحَى بَدْ رِالدُّجَى نُوْرُالْهُدَى مِصْبَاحُالضُّلَمِ
Syamsi dhuhaa badriddujaa nuurul hudaa misbaahuzhzulam

أَبِى اْلقَاسِمِ سَيِّدِالْكَوْنَيْنِ وَشَنِيْعِ الثََّقَ لَيْنِ سَيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ
Abil qaasimi sayyidil kaunayni wa syannii ‘itstsaqalayni sayyidina muhammad

صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلََّمَ سَيِّدِ اْلعَرَبِ وَاْلعَجَمِ
Shallallahu ‘alayhi waaalihi wasallama sayyidil ‘arabi wal ‘azami

نَبِيِّ اْلحَرَ مَيْنِ مَحْبُوْبَُ عِنْدَ رَبِّ اْلمَشْرِقَيْنِ وَاْلمَغْرِبَيْنِ
Nabiyyil haramayni mah buu bun ‘indarabbil masyriqayni wal maghribayni
فَيَا أَيُّهَا اْلمُثْتَاقُوْنَ إِلَى رُوْيَةِ جَمَا لِهِ صَلُّوْا عَلَيْهِ
Fayaa ayyuhal musytaaquuna ilaa ru’yabi jamaa lihi shallu ‘alaihi

وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
Wasallimu tasliimaan



S H A L A W A T    T A ’ A  J
Terjemahan (Shalawat Mahkota)

Sesungguhnya Allah dan para ma­Iaikat-Nya berselawat atas Nabi, wahai orang-orang yang beriman berselawat dan bersalamlah kepada Nabi Mu­hammad SAW. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada junjungan kami,


Nabi Muhammad, pemilik mahkota kemu­liaan, yang melakukan mikraj, yang menunggangi Burak, dan yang meme­gang bendera, menjadi penolak bala dan penyakit yang menular serta segala macam penyakit yang ada.

Tubuhnya suci dan juga disucikan, agung dan bercahaya. Dialah yang namanya tertulis, tertuang dan terangkat pada

Lauh Mahfuz dan catatan-catatan kebaikan. Dia adalah mentari pada waktu duha yang indah, bulan yang bersinar, cahaya petunjuk ke jalan kebenaran, pelita dalam kegelapan, pemimpin dunia dan akhirat

, serta pemberi syafaat bagi kedua alam, ayah Qasim, yang menjadi pemimpin kami semua, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim,

pemimpin kaum Arab dan ajam (non-Arab), nabi bagi kedua Tanah Haram (Mekah dan Medinah), yang dicintai di sisi Tuhan, penguasa Masyriq (Timur) dan Maghrib (Barat).


Wahai orang-orang yang merindukan cahaya keindahannya berselawat, berse­lawat dan bersalamlah atas Rasulullah. Ya Allah, limpahkan selawat, salam, dan berkah-Mu kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, serta keluarganya.

Shalawat Syekh Abdul Qadir Jaelani


Bismillahirrahmaanirrahiim 

1. Limpahkanlah ya Allah, shalawat dan salam atas junjungan kami Nabi Muhammad SAW pembawa berita gembira yang menggembirakan kepada orang-orang mukmin di dalam firman Allah Yang Agung. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang beriman. (Al-Baqoroh, 223). Bahwasanya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Al-Imran, 171). 

2. Limpahkan ya Allah, shalawat dan salam atas junjungan kami Nabi Muhammad SAW pembawa berita gembira yang menggembirakan kepada orang-orang yang berdzikir, di dalam firman Allah Yang Agung. “Karena itu, ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat kepada mu. (Al-Baqarah, 152). Dengan menyebut nama Allah, dzikir yang sebanyakbanyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan sore. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohon ampunan untukmu). Supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan pada cahaya dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. Salam penghormatan kepada orang-orang mukmin itu. Pada hari mereka menemuinya dengan salam dan dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka. (Al-Ahzab, 43-44). 

3. Limpahkanlah ya Allah, shalawat dan salam atas junjungan kami Nabi Muhammad SAW pembawa berita gembira yang menggembirakan kepada orang-orang yang beramal di dalam firman Allah yang Agung, “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amalan orang-orang yang beramal di antara kamu baik laki-laki maupun perempuan. (Ali Imran, 195). Dan barangsiapa menjalankan amal yang sholeh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab. (Al-Mukmin, 40). 

Next Part 2.

Menjaga Wudhu


Nabi saw. mengajarkan kepada umatnya agar selalu berusaha menjaga wudhu. Menjaga wudhu merupakan salah satu dari tujuh Sunnah Rasul, yakni: menjaga shalat fardhu berjamaah, istiqamah shalat tahajud dan witir, mendawamkan shalat dhuha, tadabbur Al-Qur'an setiap hari, memperbanyak sedekah, selalu berusaha menjaga wudhu, serta beristighfar setiap hari. Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Umar bin Khaththab bahwa Rasulullah saw. bersabda,

”Barangsiapa berwudhu, kemudian mengangkat pandangannya ke langit dan berkata, 'Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusanNya', dibukakan delapan pintu surga untuknya dan ia masuk dari mana saja yang ia kehendaki." (HR Ahmad, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan an-Nasa'i) 

Bakti kepada Orang Tua

 

Suatu hari, Jahimah datang menghadap Rasulullah saw. dan berkata, ”'Wahai Rasulullah, saya ingin pergi berperang. Saya datang ke sini meminta pertimbangan dari engkau.' Rasulullah saw. bertanya, 'Apakah kamu memiliki seorang ibu?' Jahimah menjawab, 'Ya, saya punya." Rasul bersabda, 

”Temanilah ia karena sesungguhnya surga berada di bawah kedua kakinya.” (HR Ibnu Majah dan Nasa'i) 

Empat Amal Sederhana yang Mengantarkan Surga

Pada suatu ketika, Rasulullah saw. bertanya kepada para sahabat, 

”Siapa di antara kalian yang pagi hari ini berpuasa?” Abu Bakar ash-Shiddiq menjawab, ”Saya." 

Rasulullah melanjutkan pertanyaannya, 

”Siapa di antara kalian yang pagi hari ini mengantarkan jezanah?” Abu Bakar ash-Shiddiq menjawab, ”Saya." 

Rasulullah melanjutkan pertanyaannya, 

”Siapa di antara kalian yang pagi hari ini memberi makan kepada seorang miskin?" Abu Bakar ash-Shiddiq menjawab lagi, ”Saya." 

Rasulullah saw. melanjutkan pertanyaannya lagi, 

”Siapa di antara kalian yang pagi hari ini menjenguk saudaranya yang sakit?” Abu Bakar ash-Shiddiq menjawab pula, ”Saya.” 

Rasulullah saw. kemudian menjelaskan, 

"Tidak (ada balasan bagi) seseorang di antara kalian yang melakukan keempat perkara itu, kecuali ia akan dimasukkan ke dalam surga. " (HR Muslim) 

Berhijrah di Jalan Allah.

Berhijrah di jalan Allah merupakan salah satu jalan yang akan mengantarkan kita ke surga. Hijrah di sini tidak hanya dalam pengertian fisik (seperti hijrahnya Rasulullah dan para sahabat dari Mekah ke Madinah), tetapi tidak kalah pentingnya adalah berhijrah dari perbuatan-perbuatan maksiat kepada perbuatan yang saleh. Termasuk dalam hal ini adalah berhijrah dalam bidang ekonomi, yakni meninggalkan ekonomi riba (seperti bank dan asuransi konvensional) dan beralih ke ekonomi syariah (bank dan asuransi syariah maupun instrumen syariah lainnya). 

Allah swt. berfirman, 

”Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. Tuhan menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat, keridhaan dan surga, mereka memperoleh kesenangan yang kekal di dalamnya. " (at-Taubah [9]: 20 22) 

Allah swt. juga berfirman,

”Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka terbunuh atau mati, sungguh, Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah pemberi rezeki yang terbaik. Sungguh, Dia (Allah) pasti akan memasukkan mereka ke tempat masuk (surga) yang mereka sukai. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun.” (al-Hajj [22]: 58-59)

Dalam hal ini, Syekh Muhammad Shalih al-Munajjid menegaskan, ”Orang-orang yang berhijrah di jalan Allah tidak akan berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang itu adalah bapak, anak, saudara, atau keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati dan menguatkan  dengan pertolongan-Nya. Kemudian Dia memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap limpahan rahmatNya.” ( jagalah Hati, Raih Ketenangan, hlm. 183) 


Menangis ketika mendengarkan Bacaan Al Quran


Orang yang menangis, atau minimal hatinya berduka, ketika mendengar bacaan Al-Quran, kelak akan dimasukkan ke dalam surga.

Dalam satu riwayat diceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah saw. membaca bagian akhir surah az-Zumar (39) ayat 71,

”Orang-orang yang kafir digiring ke neraka Jahanam secara berombongan. "

Sahabat Anshar yang datang menyertai Rasulullah waktu itu menangis terisak-isak ketika mendengar bacaan tersebut, kecuali seorang pemuda di antara mereka. Pemuda itu berkata, ”Rasulullah, saya sulit menangis. Tidak setetes pun air mataku jatuh.” Lalu Rasulullah saw. bersabda, ”Apabila orang tidak bisa menangis, tetapi hatinya berduka setelah mendengar bacaan ayat Al-Qur"an seperti tadi, ia memperoleh surga.”

lbnu Jarir meriwayatkan dari Abu Dzarr al-Gifari bahwa Rasulullah saw. bersabda,

"Aku bacakan kepada kalian surah at-Takatsur (QS [102]: 1 -8), barang siapa yang menangis ketika mendengar(nya), ia memperoleh surga. Barang siapa yang merasa kesedihan dalam hatinya, ia juga memperoleh surga, walaupun tidak meneteskan air mata.” 

Istiqomah Qiyamullail

Ali bin Abu Thalib meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, 

”'Sesungguhnya surga memiliki kamar-kamar, engkau melihat luarnya dari dalamnya dan dalamnya dari luarnya.' Seorang Arab Badui berdiri lalu bertanya, 'Wahai Rasulullah, untuk siapakah ia?' Rasulullah berkata, 'Untuk orang yang baik perkataannya, memberi makan, serta selalu berpuasa dan shalat pada waktu malam ketika orang-orang tidur.” (HR Tirmidzi dan Ahmad) 

Abu Malik al-Asy'ari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, 

”Sesungguhnya di dalam surga terdapat kamar-kamar yang terlihat luarnya dari dalamnya dan dalamnya dari luarnya, disiapkan oleh Allah untuk orang yang memberi makanan dan rajin berpuasa serta shalat pada waktu malam ketika orang-orang tidur. " (HR Thabrani) 

Tentang keutamaan shalat tahajud, Khalid Abu Syadi menegaskan dengan pernyataan yang ringkas namun padat, ”Barang siapa yang selalu terjaga pada malam hari, ia akan mencapai cita-citanya yang tinggi. Barang siapa yang terhibur dengan tidurnya, ia akan merasa asing pada hari ia ditidurkan.” (Bisnis yang tak Pernah Rugi, hlm. 80) 

Rasulullah saw. menjelaskan lima faedah qiyamullail, seperti terungkap dalam sabda beliau, 

”Kerjakanlah qiyamullail karena sesungguhnya qiyamullail merupakan: ( 1 ) kebiasaan orang-orang saleh sebelum kamu, (2) pendekatan diri kepada Allah, (3) pencegah dosa, (4) penghapus kesalahan-kesalahan, dan (5) pengusir penyakit dari jasad. " (HR Tirmidzi, Baihaqi, dan Hakim) 

Amalan Ringan di Lisan, Berat di Timbangan.

Sahabat ngaos,  jika kita bisa mendapatkan sesuatu yang memperberat timbangan amal baik kita di akhirat nanti hanya dengan mengucapkan sesuatu, mengapa tidak kita ucapkan saja. Tidak perlu payah beramal, tidak harus bersimbah keringat beramal, kita sudah bisa mendapatkan pahala yang besar, mengapa tidak mau? 

Kita persilakan sahabat Nabi, Abdurrahman bin Shakhr, yang lebih dikenal dengan nama julukannya, Abu Hurairah, menuturkan haditsnya. 


Subhanallah, betapa mudahnya beramal saleh. Betapa ringannya kalimat ini diucapkan oleh lisan kita. Betapa cepatnya 
kita menghafal lafal ini. Ayo kita ucapkan sekarang juga,  “Subhanallah Wa Bihamdihi Subhanallahil Adzim ” 

Kita bisa mengucapkannya sambil menyetir mobil saat berangkat ke tempat kerja. Kita juga bisa melafalkannya sembari mengendarai motor saat berangkat kuliah. Kita bisa mengatakannya di kios pasar sambil menunggu kedatangan pembeli. Kita dapat pula mengucapkannya ketika kita mengayuh sepeda saat berolahraga di pagi hari. Kita bisa dan mampu melakukannya kapan saja.

Melafalkan kalimat itu hanya memerlukan waktu sekitar lima detik. Ini artinya dalam semenit kita bisa mengucapkannya 12 kali. Dalam seperempat jam kita dapat mengucapkannya 180 kali. Kalo bisa satu jam kita terus melafalkannya maka kita telah mengucapkan sebanyak 720 kali. Allahu akbar, banyaknya pemberat timbangan kita! 

Ketimbang kita mendendangkan lagu dangdut, pop, rock, atau lagu dan nyanyian lainnya yang tidak berpahala, lebih baik kita mengucapkan lafal ringan pemberat timbangan itu saja. Daripada kita ber-um-um menembangkan tembang macapat atau tembang campur sari, lebih baik kita berdzikir dengan lafal tersebut. Ketimbang kita nganggur melamun, lebih baik kita dzikir  “Subhanallah Wa Bihamdihi Subhanallahil Adzim” tanpa tetapi. 

Bayangkan, jika teman-teman sekolah kita di SMA atau SMP atau teman kuliah kita di universitas-yang muslim tentunyalebih memilih melafalkan  “Subhanallah Wa Bihamdihi Subhanallahil Adzim” daripada lagu-lagu cinta, baik berbahasa Inggris maupun yang berbahasa Indonesia, pada saat istirahat mereka, alangkah indahnya. Betapa sekolah atau kampus kita menjadi lebih hidup daripada biasanya. Betapa banyaknya pelajar dan mahasiswa 

yang memiliki tabungan untuk memperberat timbangannya di akhirat. 

Bayangkan jika rekan-rekan kerja kita di kantor, staf, dan dewan direksi yang beragama lslam-lebih suka mengucapkan dzikir  Subhanallah Wa Bihamdihi Subhanallahil Adzim daripada nyanyi lagu-lagu rock atau pop, baik domestik maupun Barat, alangkah bagusnya. Kantor kita akan lebih cerah dengan cahaya hidayah. Ruang kerja kita akan lebih sejuk daripada biasanya, walau AC kantor sedang error sekalipun. Yang lebih penting, rekan kerja kita yang sehari-hari bekerja saling bantu dengan kita menjadi lebih dekat kepada Allah dan senantiasa ingat akhirat, akhir perjalanan panjang mereka. 

Bayangkan jika sahabat kita, sesama pedagang di pasar, baik pasar tekstil atau pasar sayur, atau pasar grosir elektronik, atau pasar komputer-yang muslim tentunya-lebih baik berzikir Subhanallah Wa Bihamdihi Subhanallahil Adzim daripada mendendangkan lagu dangdut yang biasa dilantunkan biduan biduanita dangdut dengan membuka lebar-lebar auratnya untuk konsumsi publik. Alangkah besar manfaatnya jika demikian. Manfaat dzikir itu tidak hanya kembali kepada mereka, tetapi juga kepada orang-orang sekitarnya, termasuk para pembeli. Pembeli dan pelanggan mendengar-walau hanya pelan dan lirih-ucapan dzikir, bukan lagu yang melalaikan pikir. 

Mari kita membayangkan jika sejawat dokter dan rekan paramedis di rumah sakit atau puskesmas atau institusi kesehatan lainnya-yang beragama Islam-lebih suka berdzikir Subhanallah Wa Bihamdihi Subhanallahil Adzim saat menunggu pasien atau saat istirahat siang atau saat-saat longgar lainnya, alangkah terangnya jiwa rumah sakit kita. Alangkah bercahayanya lembaga kesehatan kita. Pasien akan lebih terpenuhi kebutuhan rohaninya sehingga akan mendorongnya untuk menggapai kesembuhan iasmaninya. 

Bayangkan ketika masyarakat kita, penduduk perumahan kita, tetangga sekitar kita, lebih suka melafalkan Subhanallah Wa Bihamdihi Subhanallahil Adzim

daripada ucapan lainnya, betapa Allah akan mencintai mereka. Ucapan itu dicintai oleh Allah maka pengucapnya pasti juga dicintai oleh Allah. Allah cinta mereka dan Allah akan anugerahkan nikmat-Nya.

Semua itu memang hanya bayangan, fantasi, dan anganangan. Namun, suatu saat, entah kapan itu, kita akan dapat mewujudkannya. Bagaimana caranya, kita awali dari diri kita terlebih dahulu. Jika kita sudah biasa mengucapkan Subhanallah Wa Bihamdihi Subhanallahil Adzim pada waktu longgar kita, pada saat istirahat kita, atau ketika kita bersantai, sebagai pengganti lagu dangdut atau campur sari atau pop atau rock atau metal, atau tembang-tembang lainnya, yang mayoritasnya justru melalaikan hati, kita akan mampu membiasakannya kepada orang-orang sekitar kita. Mulai dari saudara, teman, istri, suami, anak, dan lainnya, lantas ke orang-orang yang lebih luas lagi. Jadi, mari kita mulai sejak dini. Mari kita ucapkan sekarang juga Subhanallah Wa Bihamdihi Subhanallahil Adzim

Ucapan lainnya yang memperberat timbangan adalah Alhamdulillah.  Abu Malik al-Asy'ari bertutur, Rasulullah saw. bersabda, 


Hadits itu juga menjelaskan bahwa lafal subhanallah dan alhamdulillah tersebut memenuhi ruang yang ada di antara beberapa langit dan bumi. Dua dzikir ini memenuhi antariksa, 
memenuhi ruang angkasa. Betapa mulianya. Betapa agungnya. Betapa berharganya dua ucapan dzikir tersebut. 

Semua dzikir itu memperberat timbangan amal baik kita nanti di akhirat. Oleh karena itu, jangan lupa untuk melafalkannya, sebanyak mungkin setiap hari. 

Tutorial Hijab Seri 03


1. Kenakan inner/ciput ninja. Siapkan selendang kaos. Sampirkan salah satu sisi selendang di atas kepala. 


2. Semat dengan pentul di tengkuk. 


3. Angkat selendang yang menjuntai, sampirkan sisi selendang tepat di dahi sehingga bagian dalam selendang menjadi menghadap atas. 



4. Bawa ke bahu kanan ujung selendang yang masih menjuntai. Bentuk draperinya hingga rapi. 


Tutorial Hijab Seri 02


1. Kenakan inner/ciput ninja. Siapkan selendang, sampirkan di atas kepala dengan 2 sisi sama panjang 


2. Bawa kedua sisi selendang ke belakang dan silangkan di bawah cepol. 


3. Bawa ujung selendang sebelah kanan ke depan dan lingkarkan di leher. 



4. Bawa kedua sisi selendang ke belakang dan silangkan di bawah cepol. 


Tutorial Hijab Seri 01


1. Kenakan inner/ciput ninja. Siapkan selendang dengan dua muka, sampirkan di atas kepala dengan dua sisi sama panjang dan semat dengan jarum di tengkuk. 



2. Ambil salah satu juntaian, sisi dalam di luar, tarik sejumput di kiri kanan,bawa ke bawah cepol. 


3. Satukan kedua ujung tadi tepat di atas cepol, cepol tidak tertutup. 


4. Angkat juntaian lainnya, tanpa dibalik, tangkupkan langsung di atas kepala 


5. Posisikan sisa juntaian di sisi kanan kepala dan sematkan bros atau jarum pentul