Kutipan Tazkiyatun Nafs Part 1



Kutipan Tazkiyatun Nafs

Siapa yang bisa menjamin diri kita aman dari dosa tiap harinya? Siapa yang bisa memastikan memiliki asuransi bebas dosa tiap harinya?
Maka, ketika kita melakukan dosa, baik itu memandang yang haram, ghibah, dan lain-lain, maka bertobatlah dan susullah segera dengan amalan saleh. Di antaranya adalah membaca Al-Qur’an, shalat, puasa, sedekah, umrah, amar makruf nahi mungkar, duduk di majelis taklim, dan lain-lain.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlak yang baik.”
(HR. Tirmidzi)

Di dalam dunia ini, cuma dua modal kita, yaitu syukur dan sabar. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?

Lebih baik berpayah-payah dalam melaksanakan ibadah. Dari-pada bersenang-senang dalam kolam maksiat.

Mungkin kita merasa ada yang hilang dari aktivitas selama ini. Mungkin kita merasa ada yang tak hadir saat ini.

Dan mungkin kita merasa hambar dalam menjalani hidup ini. Itu lantaran keberkahan tidak turun dalam kehidupan kita. Syaqiq bin Ibrohim rahimahullah mengungkapkan, “Pintu taufik ditutup atas harnba karena enam hal:
1. Kesibukannya menikmati karunia Allah, sehingga melupakan rasa syukur kepada-Nya.
2. Keinginan belajar semata dengan tanpa amalan.
3- Mudah bermaksiat dan menunda tobat.
4. lertipu dengan persahabatan orang-orang saleh dengan tanpa mencontoh amalan-amalan mereka.
5. Mengaku menjauhi dunia, tetapi praktiknya justru mengejarnya.
6. Mengaku menghampiri akhirat, tapi justru mereka malah berpaling darinya.”
(Al-Fawaid, karya Ibnu Qoyyim al Jauziyyah)

Seorang muslim sibuk belajar mencintai saudaranya. Maaf, tidak ada waktu untuk belajar membenci.

Seorang muslim mengerjakan apa yang bisa diamalkan untuk saat ini. Dan ia bermohon kepada Allah agar dimudahkan pada amalan-amalan berikutnya.

Orang-orang yang lemah dalam beribadah bagaikan petani yang menanam benih pohon sejak dulu, dia menyiramnya, merawatnya, dan berharap buahnya.
Namun, ketika masa penen segera tiba, ia malah menelantarkan dan meninggalkannya. Astagfirullah. Yaa muqollibal qulub, tsabbit qolbi 'ala diinik.

Apa yang kau kejar?
Di saat cuaca dingin, kau rindu cuaca yang hangat.
Di saat musim kemarau, kau rindu musim hujan.
Di saat berada di tempat yang sepi, kau rindu di tempat yang ramai.
Di saat berada di tempat yang ramai, kau rindu kesunyian.
Apa yang kau kejar?
Ketika bersama keluarga, kau ingin jauh dari mereka.
Ketika jauh dari keluarga, kau ingin kembali bersama mereka. Saat bersama anak, kau anggap ia pengganggu.
Saat anak-anak tiada, kau ingin mendekapnya.
Apa yang kau kejar?
Padahal sungguh telah banyak nikmat yang Allah telah berikan pada kita. Namun, rasa ketidakpuasan itulah yang senantiasa menutup mata.

0 Komentar